Maestro Seni yang Satukan Tradisi, Spiritualitas, dan Kanvas

Kabar duka datang dari dunia seni rupa Indonesia. Nasirun, seniman asal Cilacap, Jawa Tengah, yang lama menetap dan berkarya di Yogyakarta, meninggal dunia pada Sabtu (1/8/2026) pagi. Kepergiannya meninggalkan jejak panjang sebagai salah satu perupa yang konsisten menggali tradisi, spiritualitas, serta berbagai kisah budaya Nusantara ke dalam karya-karyanya.

Nasirun dikabarkan mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit AMC Muhammadiyah Yogyakarta sekitar pukul 05.58 WIB. Kabar tersebut dikonfirmasi oleh Bimo Aditya, tetangga Nasirun yang tinggal di kawasan Perumahan Bayeman Permai, Onggobayan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul.

Saat kabar duka itu disampaikan, jenazah Nasirun masih berada di rumah sakit. Berdasarkan informasi keluarga, jenazah dijadwalkan dimakamkan di Makam Seniman Girisapto Imogiri, Bantul, pada Sabtu sekitar pukul 14.00 WIB.

Kepergian Nasirun terbilang mengejutkan bagi orang-orang di sekitarnya. Bimo bahkan masih sempat berbincang dengan Nasirun pada Jumat sore, sehari sebelum kabar duka tersebut. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, Nasirun disebut sempat mengeluhkan sakit pada bagian dada dan masalah asam lambung.

Nasirun dan Perjalanan Panjang dari Cilacap ke Yogyakarta

Nasirun lahir di Cilacap, Jawa Tengah, pada 1 Oktober 1965. Ketertarikannya terhadap dunia seni kemudian membawanya merantau ke Yogyakarta pada 1983. Kota tersebut menjadi ruang penting dalam perjalanan kreatif sekaligus pembentukan karakter artistiknya.

Ia menempuh pendidikan seni dengan latar belakang seni kriya batik dan seni murni. Pengalaman tersebut menjadi fondasi bagi eksplorasinya terhadap berbagai bentuk visual yang kemudian berkembang menjadi ciri khas dalam karya-karyanya.

Bagi Nasirun, tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu. Berbagai cerita rakyat, kisah pewayangan, kearifan lokal, hingga pengalaman spiritual justru menjadi bahan yang terus ia olah untuk membaca kehidupan masa kini.

Latar belakang keluarganya juga memberi pengaruh kuat. Dari sang ibu, Nasirun mengenal berbagai cerita wayang dan dongeng bernuansa mistik yang diwariskan secara turun-temurun. Sementara itu, ayahnya memperkenalkan pengalaman spiritualitas tasawuf dalam Islam.

Dua sumber pengetahuan tersebut kemudian bertemu dalam praktik keseniannya. Nasirun mengolah unsur tradisi dan spiritualitas menjadi bahasa visual yang lebih personal, sekaligus relevan dengan persoalan masyarakat kontemporer.

Gaya Berkarya yang Membuat Namanya Dikenal

Sebagai seniman, Nasirun dikenal memiliki produktivitas tinggi. Ia tidak hanya aktif menghasilkan lukisan, tetapi juga terus mengeksplorasi bentuk, simbol, warna, dan gagasan yang berasal dari berbagai lapisan kebudayaan.

Karya-karyanya kerap memperlihatkan pertemuan antara dunia tradisional dan kehidupan modern. Tokoh pewayangan, simbol keagamaan, mitologi, hingga berbagai representasi kehidupan sosial dapat hadir dalam satu ruang visual.

Pendekatan tersebut membuat Nasirun memiliki posisi yang khas di tengah perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia. Ia tidak meninggalkan akar tradisinya, tetapi justru menjadikannya sebagai pintu masuk untuk membicarakan persoalan yang lebih luas.

Karena itulah, perjalanan Nasirun sebagai pelukis tidak dapat dilepaskan dari upayanya menjaga hubungan antara masa lalu dan masa kini. Kanvas baginya menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman personal, kebudayaan, dan refleksi spiritual.

Ratusan Pameran di Dalam dan Luar Negeri

Perjalanan Nasirun di dunia seni berlangsung selama puluhan tahun. Sejak masa kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) pada 1987 hingga 1994, ia telah terlibat dalam berbagai pameran dan terus aktif berkarya setelah menyelesaikan pendidikannya.

Sejumlah pameran tunggal yang pernah digelar antara lain “Uwuh Seni” di Galeri Salihara, Jakarta, pada 2012; “Breath of Nasirun” di Mizuma Gallery, Tokyo, Jepang, pada 2014; serta “RUN–Embracing Diversity” di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada 2016.

Ia kemudian menghadirkan “Wirid on Canvas” di Natan Galeri, Kotagede, Yogyakarta, pada 2018 dan “Menafsir Borobudur” di Latar Galeri, Jakarta, pada 2020. Pada tahun yang sama, Nasirun juga menggelar pameran virtual “Membaca Tanda Zaman”.

Kiprahnya berlanjut melalui “Metajagad Nasirun” di Soboman Art, Yogyakarta, pada 2021 dan “Perayaan Persahabatan” di Museum OHD, Magelang, pada Juli 2023.

Di luar pameran tunggal, Nasirun juga terlibat dalam berbagai pameran bersama, baik di Indonesia maupun mancanegara. Beberapa di antaranya adalah “Pathos of the Fringes” di Jeonbuk Museum of Art, Korea Selatan, Shah Alam Bienalle di Malaysia, “Bridge of Colour” di Thailand, serta sejumlah pameran seni di Yogyakarta, Jakarta, Kalimantan Selatan, Singapura, dan berbagai daerah lainnya.

Keterlibatan dalam banyak ruang pamer tersebut menunjukkan luasnya jaringan dan konsistensi Nasirun dalam dunia seni rupa. Ia bukan hanya dikenal melalui karya di atas kanvas, tetapi juga melalui keterlibatannya dalam berbagai percakapan mengenai kebudayaan dan perkembangan seni kontemporer.

Penghargaan untuk Perjalanan Artistiknya

Produktivitas dan konsistensi Nasirun juga mendapat pengakuan melalui sejumlah penghargaan. Ia pernah memperoleh penghargaan untuk kategori sketsa dan seni lukis terbaik dari ISI Yogyakarta.

Nasirun juga menerima McDonald Award pada Lustrum ISI ke-X serta Philip Morris Award pada 1997. Penghargaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang yang mengukuhkan namanya di antara para perupa penting Indonesia.

Lebih dari sekadar daftar penghargaan, perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana Nasirun mempertahankan identitas artistiknya di tengah perubahan zaman. Ia terus membawa tradisi ke dalam karya tanpa menjadikannya sekadar ornamen.

Warisan Nasirun bagi Seni Rupa Indonesia

Nasirun meninggalkan warisan yang lebih besar daripada sekadar deretan lukisan dan catatan pameran. Selama puluhan tahun, ia menunjukkan bahwa tradisi, spiritualitas, dan kehidupan modern dapat berdialog dalam satu karya seni.

Sebagai peluki yang tumbuh dari pengalaman budaya Jawa dan pendidikan seni di Yogyakarta, Nasirun membangun bahasa visual yang dekat dengan akar tradisi, tetapi tetap terbuka terhadap perkembangan zaman.

Kini, perjalanan panjang tersebut berhenti setelah Nasirun meninggal dunia pada usia 60 tahun. Namun, karya dan gagasan yang ia tinggalkan akan terus menjadi bagian dari perjalanan seni rupa Indonesia.

Bagi dunia seni, kepergian Nasirun bukan hanya kehilangan seorang pelukis produktif. Ia juga menjadi kehilangan sosok yang selama puluhan tahun menjadikan kanvas sebagai ruang untuk merawat ingatan, membaca tradisi, dan menerjemahkan spiritualitas ke dalam bahasa seni kontemporer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Slot Deposit 5k

dewetoto

dewetoto link alternatif

dewetoto link login
  • Scatter Hitam
  • Slot Gacor
  • Situs Slot Online
  • Slot Online
  • daftar slot gacor
  • deposit qris cepat
  • bonus new member 100
  • scatter hitam mahjong
  • pola zeus gacor 2
  • OLX707 daftar slot gacor
  • OLX707 situs slot terbaik
  • OLX707 akun slot resmi
  • link bandar toto
  • olx707 link resmi
  • link slot hari ini
  • link situs bandar gacor
  • olx707 link resmi 2026
  • olx707 login daftar 2026
  • slot hari ini
  • link bandar slot
  • olx707 link resmi kami
  • daftar slot gacor
  • link Slot Mudah Maxwin